Vitalac

Vitalac

Vitalac

5 Star Activities

Di Balik Anak Sukses: Siapa Dulu Dong Ibunya!

Di Balik Anak Sukses: Siapa Dulu Dong Ibunya!

Sudah pasti semua ibu ingin anaknya kelak jadi orang sukses, betul kan? Setidaknya sebagian besar ibu ingin anaknya tumbuh jadi orang dewasa yang sehat, cerdas, mampu bergaul, dan pandai membawakan diri kan. Tentu harapan ini tidak salah. Mana ada sih ibu yang ingin anak kesayangannya gagal? Kesuksesan anak pun dapat dilihat sejak anak kecil. Ketika Ibu bangga karena ia tidak hanya cerdas tapi juga percaya diri seperti saat diminta bernyanyi di depan seluruh sanak saudara. Ia juga berani untuk berkenalan dan berbicara lancar di depan orang baru. Tak berehenti di situ, ia pun aktif bertanya tentang berbagai macam hal hingga Ibu kewalahan Untuk memastikan kesuksesan anak di masa depan, banyak anak diikutsertakan ke berbagai lomba untuk mendapat piala dengan berbagai ukuran. Ibu juga berusaha memberikan anak makanan, minuman, atau vitamin yang diembel-embeli ‘terbaik’. Banyak ibu yang memasukkan anak ke sekolah atau les yang memungut total biaya lebih besar daripada penghasilan rumah tangga. Ada kekhawatiran bahwa anak yang ketinggalan barang dan jasa ‘terbaik’ ini akan menjadi terbelakang di bidang kesuksesan kelak. Bagi para ibu tersebut, segala usaha ini adalah pengorbanan demi kesuksesan anak kelak. Masalahnya banyak ibu yang jadi khawatir berlebihan dan terkadang menjadi bulan-bulanan penjualan produk berharga premium. Ibu-ibu ini juga bekerja sangat keras untuk menerapkan hal-hal terbaik sebatas kemampuan mereka. Berbagai usaha keras ini sering dianggap orang lain sebagai sikap ambisius. Memang salah ya berambisi demi kesuksesan anak? Asal tahu saja, ambisi adalah hal yang netral. Ambisi bisa memberikan hasil yang positif terhadap diri kita, bisa juga mengarahkan kita ke sisi negatif. Bayangkan, dengan berambisi positif, ibu bisa jadi bersemangat luar biasa untuk memilih bahan dan memasakkan makanan sederhana namun sehat. Ibu juga cenderung lebih kreatif, dan mampu memikirkan lebih banyak trik untuk menstimulasi anak. Ibupun tak mudah patah arang ketika menemui kegagalan dalam mengasuh anak. Ambisi bisa jadi negatif ketika ibu terus-menerus berusaha keras tanpa memikirkan efeknya ke diri sendiri, ke hubungan dengan suami, dan kurang mempertimbangkan perasaan anak. Jika ibu menjadi khawatir berlebihan ketika memikirkan kebutuhan anak yang belum terpenuhi, terus menuntut diri memberikan yang terbaik tanpa mempedulikan realita hidup dan kurang mensyukuri apa yang telah dimiliki, artinya ambisi ibu berlebihan. Ketika tabungan terus habis, bahkan gali lubang tutup lubang demi memenuhi kebutuhan anak, pikirkan kembali jangan-jangan ambisi ibu tak realistis. Apapun yang diusahakan untuk anak, ibu tetap perlu lho memikirkan hubungan dengan semua anggota keluarga. Tetaplah sensitif terhadap perubahan positif maupun negatif yang terjadi pada suami dan anak-anak, dan tetaplah memikirkan diri sendiri. Tetapkan waktu untuk melakukan yang terbaik buat keluarga, tapi tetaplah syukuri apa yang telah dimiliki. Jika sudah menata kembali ambisi agar jadi lebih positif, maka pengasuhan ibu bisa jadi lebih tepat pula. Ibu tetap mengusahakan yang terbaik buat anak, namun dalam porsi yang lebih tepat. Dan kelak, setelah anak besar, Ibu pun merasa puas dan bangga akan kesuksesannya. Karena suksesnya, suksesmu juga! (ASA)

Baca artikel lainnya